Sunday, February 15, 2009

Wanita di Musik Rock, Regenerasi yang Tersendat


Adakah emansipasi wanita di kancah musik rock Indonesia? Jawabannya, ada. Tengoklah sepanjang perjalanannya, musik rock Indonesia yang mulai tumbuh dan berkembang pada dekade 1960-an, sempat "diperindah" dengan kehadiran para lady rocker atau para penyanyi rock wanita. Lantas, apa yang terjadi pada lady rocker Indonesia kini? Mengapa ada kesan regenerasinya berjalan tersendat? Mana generasi baru setelah Nicky Astria?

MUSIK rock Indonesia yang mulai tumbuh dan berkembang pada dekade 1960-an, memang sempat diramaikan dengan kehadiran para lady rocker atau para penyanyi rock wanita. Diawali dengan kehadiran Sylvia Saartje pada era 1970-an di saat terjadi booming kemunculan grup-grup rock di kota-kota besar seperti AKA di Surabaya, God Bless di Jakarta, Giant Step dan Rollies di Bandung, dan seterusnya.

Seiring terjadinya pergeseran trend rock -- dari format band ke solois -- pada dekade 1980-an yang mengantar karier penyanyi tunggal Achmad Albar, Gito hingga Delly Rollies bersinar terang, muncullah lady rocker generasi Renny Djajoesman dan Euis Darliah. Lalu muncul Nicky Astria, Hilda Ridwan Mas, Mel Shandy, Ita Purnamasari, Anggun C. Sasmi, Atiek CB, Connie Dio hingga Inka Christie.

Sayangnya, pasca-era 1990-an, regenerasi penyanyi rock wanita tersendat-sendat bahkan tak jalan. Akibatnya, beberapa nama seperti Ita Purnamasari, Inka Christie maupun biduanita tergres Cindy Fatikasari "terjebak" di jalur pop yang pangsa pasarnya lebih luas. Jangan heran bila belakangan penyanyi stok lama seperti Nicky Astria masih bisa eksis dan berkibar di jalur musik cadas.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Bens Leo, wartawan musik ibu kota kontan menunjuk faktor biaya produksi album solo yang mahal menjadi salah satu penyebab utama regenerasi penyanyi solo tersendat. Menurutnya, mengacu pada biaya produksi untuk satu album penyanyi solo bermutu tahun 1997 -- harga lagu andalan ciptaan Melly Goeslaw sekitar Rp 40 juta, seorang produser setidaknya harus mengalokasikan Rp 200 juta. Dana itu hanya untuk membayar honor pencipta lagu, pemusik pengiring maupun penata musik kelas satu dan belum termasuk biaya promosi yang besarnya hampir sama.

"Dengan biaya ratusan juta rupiah itu, risiko kerugian otomatis menghantui setiap langkah para produser. Akibatnya, mereka bersikap sangat hati-hati dan tak mau berspekulasi untuk membuat album solo," papar Bens Leo kepada Bali Post beberapa waktu silam di Jakarta.

Rasa takut rugi besar itu sangatlah beralasan. Apalagi kenyataannya pangsa pasar musik rock tak sebesar musik pop atau dangdut ketika berjaya. Sedangkan dengan dana Rp 200 juta, para produser bisa menghasilkan tiga atau empat album grup band. Hal itu dimungkinkan lantaran kelompok musik tak memerlukan biaya produksi album yang besar. Pasalnya, mereka sudah siap dengan lagu dan aransemen musik karya sendiri. "Akibatnya sudah dapat ditebak, para produser berlomba-lomba melansir album grup band. Dan kelangkaan penyanyi solo rock makin menjadi-jadi," tambah Bens yang juga pengamat musik itu.

Sementara Hadi Soenyoto, pimpinan HP Records, menambahkan regenerasi penyanyi rock wanita yang jalan di tempat bukan semata-mata lantaran produser takut rugi. Tapi juga merupakan dampak dari trend dan selera pasar yang beberapa tahun terakhir ini sangat menggandrungi grup band. "Sulit bagi kami untuk melawan arus deras lagu-lagu pop rock grup band yang laris di pasaran. Apalagi belakangan pembajakan kaset dan CD kian merajalela. Kendati begitu, saya yakin tahun depan trend band bakal bergeser dan giliran album-album penyanyi solo termasuk yang bernuansa rock bakal laku," harap produser yang juga menangani album rock dari Geger Band yang beranggotakan wanita-wanita seksi itu.

Upaya "memperindah" kembali blantika musik rock dengan menghadirkan geliat lady rocker, lanjut Hadi, bakal dihadang kendala minimnya penyanyi belia yang siap lahir-batin diorbitkan. "Sangat tak mudah mengorbitkan penyanyi rock wanita. Sebab, selain dituntut memiliki vokal bagus dan full power, juga harus memiliki mental baja bernyanyi secara live di panggung terbuka. Hanya dengan begitu sang calon penyanyi bisa menaklukkan publik penonton musik rock yang aneh-aneh tingkah lakunya," tegas produser penyanyi Ita Purnamasari ini.

***

PENYANYI rock wanita senior Nicky Astria juga menyampaikan pendapatnya. Menurutnya, pada tahun-tahun terakhir ini ada kecenderungan penyanyi muda potensial memilih jalur cepat populer dengan menekuni jalur musik pop. "Persepsi mereka sangat sederhana, bila bisa mendekati kemampuan nyanyi dan aksi panggung Krisdayanti, popularitas gampang diraih. Untuk jangka pendek hal itu memang dimungkinkan lantaran pangsa pasar musik pop memang luas. Tapi, untuk mempertahankan eksistensi karier ke depan mereka rata-rata dihadang kendala besar lantaran sangat minim jam terbang di panggung," tutur pelantun lagu hits "Jarum Neraka" ini.

Nicky sangat menyayangkan langkah ingin cepat populer dari para juniornya itu. Padahal, lanjut penyanyi kelahiran Bandung, 18 Oktober 1967 ini, bila mereka bisa bersabar dan banyak menempa diri di ajang festival maupun pentas hiburan live musik rock terlebih dahulu, masa depan karier mereka lebih cerah. "Di jalur rock, saingan relatif sedikit. Tapi, untuk menggapai kesuksesan dan popularitas dibutuhkan kesabaran dan perjuangan berliku. Sebagai gambaran, saya yang berjuang keras menembus dapur rekaman sejak 1977, baru baru menuai sukses pada 1985," terang Nicky.

Sedangkan dari kacamata Ian Antono, gitaris grup legendaris God Bless, tersendatnya regenerasi lady rocker ini juga diakibatkan kian minimnya aranjer rock. Sebab, peran aranjer sangat vital dalam memberi keyakinan kepada para produser untuk kembali produktif melansir album-album penyanyi tunggal. "Saya sempat berharap musisi muda Pay (mantan gitaris Slank, red) bisa konsisten menjadi aranjer musik rock. Tapi entah mengapa belakangan dia lebih serius di jalur pop. Padahal, saya yakin di tangannya bakal lahir penyanyi yang sangat potensial menjadi pioner lady rock generasi kini," tutur pengorbit Nicky Astria ini.

Faktor lain yang membuat penyanyi belia enggan menekuni musik rock, lanjut Ian, akibat gambaran beban berat yang wajib mereka pikul. Semisal, wajib memiliki suara melengking yang tingginya melebihi tiga oktaf. "Persyaratan seperti itu sudah ketinggalan zaman. Sekarang, bekal suara melengking tak lagi mutlak. Buktinya, vokalis Bono-U2 atau Kurt Cobain dari Nirvana dengan suara rendah bisa menjiwai dan mendapatkan spirit musik rock," tutur Ian Antono.

Di bagian lain, Bens Leo memberi solusi, perlu ada langkah konkret untuk menekan biaya produksi album. Caranya, dengan menyemangati para penyanyi rock yang berkemampuan mencipta lagu agar lebih sering melansir album -- dalam bentuk album solo pribadi maupun lewat penyanyi rock newcomer yang dicoba diorbitkan. "Dengan maraknya album solo rock kini, kita harapkan dominasi grup band dengan omzet penjualan berjuta-juta kopi berakhir. Dan giliran penyanyi-penyanyi solo merajalela seperti yang pernah terjadi pada dekade 1980-an," harap Bens.

Bens memang pantas berharap begitu. Sebab, dalam sejarah musik rock di tanah air pernah terjadi pergeseran trend dari format band kepada solois. Hal itu diawali dengan membanjirnya album-album solo Achmad Albar, Gito dan Delly Rollies serta Benny Soebardja pada 1980-an. Trend ini akhirnya mampu menumbangkan dominasi puluhan grup rock di blantika musik Indonesia pada era 1970-an. (Sumber:Bali post)


1 comments:

lucy said...

wanita ikut berperan dlm segala hal...

Post a Comment

Please, give you're opinion!